Tegaskan Tak Ada 'Jalur Belakang', Universitas Brawijaya: Seleksi Murni Hasil Tes

Oleh
Kampus Universitas Brawijaya. (Image: Nunung Nasikhah)

Urbanasia - Kasus tertangkapnya pelaku bagi-bagi brosur yang menawarkan jasa masuk kampus lewat jalur belakang ini ternyata tidak hanya beroperasi di wilayah lokal Malang saja, lho. Namun sudah masuk dalam sindikat nasional.

Menurut Dr. Prija Djatmika, S.H., M.Si., Ketua Tim Advokasi Universitas Brawijaya yang juga menginterogasi pelaku yang tertangkap kemarin (16/07) menyatakan bahwa tim pelaku penipuan ini sebelumnya juga mengedarkan brosur jalur belakang masuk Universitas Gadjah Mada (UGM). Penyebaran brosus itu dilakukan di Universitas Pancasila Jakarta.

Baca Juga: Calo Tawarkan 'Jalur Belakang' Universitas Brawijaya, Dijamin Lolos Katanya

“Kemarin-kemarin mereka di Universitas Pancasila mengedarkan brosur serupa menjamin masuk seleksi mahasiswa di jalur mandiri UGM kan juga abal-abal. UGM mengadakan jalur mandiri di Universitas Pancasila Jakarta lalu mereka mengedarkan di situ,” ungkap Prija dalam konferensi pers di gedung rektorat UB, hari ini (17/07).

Tak hanya itu, pelaku juga ngaku telah melakukan pengedaran di UIN Sunan Ampel Surabaya. Juga melakukan aksi serupa di Universitas Brawijaya tahun lalu namun tidak tertangkap.

Berdasarkan informasi penginterogasian tim advokasi UB, pelaku yang ditangkap mengaku bahwa sindikat ini berpusat di Surabaya. Ia bersama 7 orang lainnya bertugas menyebar brosur di 8 titik di sekitaran UB. Masing-masing pelaku membawa 500 lembar brosur. Sehingga jika di kalkulasi ada 4000 brosur yang harus dibagikan.

Otak dari sindikat ini berada di Surabaya yakni bernama Hery dan istrinya Kila. Mereka mengaku memiliki jaringan orang dalam UB yang bisa meloloskan mahasiswa lewat jalur mandiri.

Namun, kendati demikian, Prija menegaskan, ini adalah kasus penipuan karena dari internal UB sendiri tidak ada jalur belakang.

“Jika memang ada, pejabat yang bersangkutan akan dicopot. Semua seleksi murni dari hasil tes,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, penentuan hasil seleksi jalur mandiri dilakukan melalui mekanisme rapat tertutup dan  dijaga oleh petugas keamanan kampus. Rapat hanya dihadiri rektor dan dekan dari semua fakultas. Dalam rapat tersebut, nilai tes ujian tulis sudah ada dan yang melewati passing grade semua diberi warna hijau.

“Nanti yang lolos tes, warnanya hijau semua. Perolehan nilai ini dipaparkan secara transparan didepan rektor dan dekan,” paparnya.

Jumlah peserta yang memenuhi standar program studi akan diseleksi. Jika misalnya kuota jurusan tertentu hanya 200 sementara yang memenuhi passing grade 500 peserta, maka akan dilipih 200 peserta dengan nilai teratas. Jadi 300 sisanya sudah pasti dinyatakan tidak lolos. Dengan sistem yang demikian ini, maka menurut Prija mustahil ada jalur belakang.

Atas temuan kasus ini, UB telah menyerahkan pelaku yang tertangkap kepada pihak polisi. Hanya saja, pelaku ini telah dilepaskan karena dianggap masih belum memenuhi unsur tindak pidana.


Prija saat memberikan klarifikasi kepada wartawan. (Image: Nunung Nasikhah)


“Kami menyayangkan kalau tersangka ini dilepas. Karena sebenarnya kasus ini dengan tidak adanya korban pun bisa diproses. Karena ini tindak percobaan penipuan sesuai pasal 378 KUHP UNTO pasal 53 KUHP UNTO Pasal 88 KUHP tentang pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana penipuan,” papar pria yang juga merupakan dosen Fakultas Hukum UB tersebut.

Padahal menurut Prija, tertangkapnya pelaku ini bisa menjadi pintu masuk untuk menguak kasus jaringan pelaku kejahatan penipuan skala nasional. Lewat pelaku yang tertangkap, polisi dinilai akan bisa melacak keberadaan 9 pelaku yang lain.

“Juga dengan begini UB kan tidak tahu orang dalamnya siapa kalau kasusnya dihentikan begitu saja. Padahal rektor pengennya tahu orang dalam itu siapa untuk membersihkan praktik penipuan semacam ini. Kita ‘kan nggak tahu ada atau tidak orang dalam,” tutur Prija.

Kasus semacam ini menurut Prija juga telah ditemukan pada tahun sebelumnya. Menurutnya, ada oknum pensiunan pegawai UB yang mencari celah dengan menawarkan jasa masuk UB lewat jalur belakang ke calon mahasiswa.

“Nah karena tidak keterima, mahasiswa ini minta uangnya kembali tapi tidak dikembalikan. Lalu lapor polisi. Karena polisi butuh menyeldidiki si anak ini, orangtua tidak berkenan akhirnya si anak di pindah ke luar jawa. Jadi ya hilang begitu saja,” ceritanya.

Kendati demikian, Prija berharap apa yang dilakukan polisi ini adalah strategi pancingan untuk mengetahui pelaku yang lain dengan melepas pelaku yang sudah tertangkap.

“Karena dalam ilmu kepolisian ada namanya melepas pelaku untuk memancing yang lain. Bisa saja pertimbangannya begitu,” paparnya.

Namun Prija menyatakan, pihak UB berharap kasus ini tidak berhenti begitu saja.

“Biar tahun depan tidak terjadi lagi,” pungkasnya.

Nah, guys, jangan percaya deh kalau ada yang nawarin jalur belakang semacam ini. Dijamin penipuan.

Penulis: Nunung Nasikhah (Urbanasia Malang)