Kisah Mahasiswa Paling Inspiratif, Rela Ngemper di Musala saat Ikut Lomba

Oleh
(Image: Laksamana for Urbanasia)

Urbanasia- Barangkali, kiprah Laksamana Fadian Zuhan Ramadhan, mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) ini tak banyak diketahui khalayak ramai.

Padahal, Laksamana, sapaan akrabnya ini telah berhasil meraih kategori “The Most Inspiring Student” dalam ajang bergengsi Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) 2019 yang diikuti oleh mahasiswa berprestasi dari berbagai universitas ternama di Indonesia.

Lalu, kira-kira mengapa Laksamana dianggap inspiratif?

Menurut cerita yang dipaparkan, Laksamana adalah mahasiswa sederhana yang selain kuliah juga bekerja sebagai teknisi laptop dan komputer serta menjadi translator murah bagi pergerakan riset mahasiswa.

Baca Juga: Hari Pramuka ke-58 Jatuh Esok Hari, Yuk Cari Tahu Makna Simbol Tunas Kelapa

Ia adalah pribadi yang gigih. Ditengah perjuangannya untuk terus berprestasi baik dalam kancah nasional maupun lokal, masalah finansial tak menjadi penghalang besar baginya.

Ia bahkan pernah mengikuti konferensi di Malaysia tanpa mendapatkan dukungan dana dari kampus maupun pihak penyelenggara. Alhasil, secara independen ia mengupayakan sendiri perjuangannya untuk bisa pergi ke Malaysia.

Laksamana tak segan menggunakan uang pribadi untuk ikut beberapa lomba nasional seperti Lomba Essay Nasional atau semacam International Human Right Model United Nation (IHRMUN).  

(Image: Laksamana for Urbanasia)

“Uang dari juara lomba sebelumnya saya tabung untuk mengikuti lomba yang lebih bergengsi lagi. Alasan saya melakukannya adalah karena sulitnya penetrasi proposal ke rektorat atau fakultas dan menjadi mandiri dengan tidur di mushola venue lomba adalah kunci,” ungkap Laksamana kepada Urbanasia.

Ia juga tak segan meminta tebengan ke teman atau sahabat untuk menginap saat mengikuti lomba.

“Dari situ saya sadar bahwa koneksi itu sangat berarti,” imbuhnya.

Tak hanya aktif berprestasi akademik, Laksamana juga terlibat dalam aktivitas sosial yakni menjadi mubalig muda dengan konten ceramah kontemporer semacam isu gender, sains dan lingkungan di masjid-masjid .

“Ini menjadi sesuatu yang unik dan jarang dilakukan kebanyakan mahasiswa sekarang,” tuturnya.

Misi yang ia bawa adalah penyebaran informasi progresif dan aktual. Ia mengatakan, pesan yang ia sampaikan di mimbar terkontekstualisasi dengan perkembangan zaman dan isu hangat yang menjadi perhatian global.

“Saya ingin masyarakat akar rumput yang tidak pernah mengakses artikel progresif dapat menginternalisasi informasi ini lewat diskusi agama sehingga lebih mengena,” tegasnya.

Tak hanya menginspirasi secara tatap muka, sebagai anak milenial, Laksamana juga memiliki proyek influential seperti podcast bernama Lak's talk, social-program dari Markas Prestasi hingga kampanye online youtube dengan nama wimpy laks.

Baca Juga: Intip Keseruan Family Gathering Kabinet Jokowi, Lomba Makan Kerupuk hingga Balap Karung

Dalam podcast ia biasa berbicara masalah politik, ekonomi hingga lingkungan. Misinya hampir sama dengan ceramah yakni ingin memperluas wawasan masyarakat dengan mengambil perspektif aktivis hingga sociopreneur yang telah ia wawancarai.

“Semakin modern masyarakat kita, semakin mobile dan semakin sempit waktu kita untuk membaca, maka dengan hadirnya podcast ini dapat menjadi sumber ilmu bahkan saat kita sedang memasak ataupun bertamasya keluar,” terangnya.

Dengan kiprah, perjuangan dan keaktifannya sebagai mahasiswa dan anak muda itulah, tak heran jika Laksamana mampu menginspirasi banyak pihak.

Tentu tak ada salahnya bagi generasi muda untuk meniru jejak luar biasa dari Laksamana.


Penulis: Nunung Nasikhah (Urbanasia Malang)