Festival Tong Tong Night Market: Pengunjung Bisa Bayar Pakai Mata Uang Zaman Belanda

Oleh
Image: Nunung Nasikhah/Urbanasia

Urbanasia - Di era modern seperti saat ini, throwback ke kenangan-kenangan jaman dulu menjadi sensasi yang unik. Maka tak heran, tren kembali ke tempo dulu banyak diusung oleh penyelenggara event dimana-mana. Pun dengan Festival Tong Tong Night Market yang diselenggarakan Jum'at (26/7) dan Sabtu (27/7).

Uniknya, di Tong Tong Night Market ini, pengunjung juga bisa merasakan sensasi masa kolonial dengan menggunakan alat pembayaran menggunakan mata uang Gulden Shalimar (GDS) yang merupakan mata uang Indonesia pada mas VOC di abad ke-17. Wow, keren!

Tong Tong Night Market yang digarap oleh The Shalimar Hotel ini terinspirasi dari Tong Tong Fair Belanda, sebuah pasar besar yang diselenggarakan oleh warga Indonesia di Belanda sejak 1959 dan masih berlanjut hingga saat ini. Tong Tong Night Market ini dimulai sejak 2016 silam.

“Ini sudah tahun ke-4,” ungkap Tantri Saraswati Satwikanindita, Marketing Communication The Shalimar Hotel kepada Urbanasia.

Baca juga: Kapan Lagi, Menikmati Syahdunya Musik Jazz dari Ketinggian 2.329 Mdpl

Di tahun ini, Tong Tong  Night Market mengusung tema ‘Urban Cultural Heritage’, perpaduan warisan budaya historis dan kontemporer yang disatukan dan ditampilkan sebagai bagian dari proses menafsirkan kembali warisan buda lokal.

Disini, pengunjung bisa dengan bebas menikmati variasi masakan Malang di satu tempat. Berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini The Shalimar Hotel berkolaborasi dengan penyedia kuliner popular Malang seperti batagor-siomay Bang Ben, ayam Swiwings hingga kupang kraton dan bebek sinjay. Ada pula tahu campur, nasi bali hingga tahu telur Kajoetangan.

“Tahun lalu untuk semua produk itu dari hotel semua, termasuk makanannya. Tapi tahun ini kita pengen kolaborasi dengan makanan yang populer di Malang,” terang perempuan yang akrab disapa Anin tersebut.

Selain kuliner, Tong Tong Night Market juga menghadirkan pojok dolanan atau dalam bahasa Indonesia berarti sudut bermain dan tjemiulan raya. Tujuannya tentu untuk mengenang masa 90-an dengan berbagai mainan dan jajanan tempo dulu.

Baca juga: YKAN dan TNC Bikin Aliansi untuk Selamatkan Hutan Mangrove

Juga tak kelewatan panggung hiburan yang diisi oleh seniman dari berbagai aliran musik dan tari. Mulai dari permainan sape street, akustik band, orkes keroncong hingga cokekan putra mandala.

Pengunjung juga bisa santai menikmati pertunjukan dengan duduk di bean bag yang telah disediakan. Tentu ini akan menambah variasi nuansa Tong Tong Night Market. Ada juga pertunjukan pembuatan keramik dan membatik secara langsung, lho.  Mantap.

Buat kalian yang ketinggalan Tong Tong Night Market tahun ini, bisa ikut di event tahun depan. Jangan sampai ketinggalan.


Penulis: Nunung Nasikhah (Urbanasia Malang)