Mengapa Bakat Anak-Anak Indonesia Lebih Diterima di Luar Negeri?

Oleh

Urban Asia – Nama Niki melambung sejak berkolaborsi dengan Rich Brian (sebelumnya bernama Rich Chigga) pada lagu bertajuk ‘Little Prince’ dalam album ‘Amen’. Kemudian pada 23 Mei lalu, ia mengeluarkan EP pertamanya bertajuk ‘Zephyr’. Namun, siapa sih sebenarnya Niki ini?

Memang tidak banyak yang tahu siapa sosok Niki. Pertama kali mendengarkan suaranya, saya menerka Niki adalah warga negara asing. Namun tebakan saya meleset! Sama seperti Rich Brian, Niki atau Nicole Zefanya merupakan penyanyi beraliran R&B, penulis lagu, serta produser berkewarganegaraan Indonesia yang tumbuh berkembang di Jakarta. Mereka berdua sama-sama bergabung dengan label rekaman 88rising di New York, Amerika Serikat.

Lahir di Jakarta, 24 Januari 1999 silam, Niki tumbuh bersama ibunya dengan mendengarkan musik R&B tahun 1990-an, seperti Destiny's Child dan Aaliyah. Sejak kanak-kanak, Niki juga sudah mahir memainkan alat musik piano dan gitar. Ia juga belajar gitar secara otodidak melalui video tutorial di YouTube. Diketahui kalau Niki mewarisi bakat ibunya yang merupakan penyanyi gospel.

Buah enggak akan jatuh jauh dari pohonnya, makanya jangan heran kalau kualitas suara Niki ini keren banget. Nah, berkat ketertarikannya dengan musik, Niki mengawali kariernya dengan ikut ajang kompetisi Cornetto Ride To Fame. Ia berhasil mengalahkan ribuan kontestan dan tampil sebagai penyanyi pembuka konser Red Tour milik Taylor Swift pada 2014 lalu.

Berhasil jadi penyanyi pembuka di konser Taylor Swift, Niki pada usia 15 tahun mendapatkan kontrak rekaman selama setahun bersama label Sony Music Indonesia. Bersama label tersebut, Niki mengeluarkan single debut dengan nuansa ceria berjudul ‘Awali Hari Dengan Cinta’.

Nah disini gaungnya redup dan tidak begitu terdengar lagi. Saya pikir mungkin karena Niki tidak menarik banyak penggemar, maka pihak label enggan memberikan ruang popularitas kepadanya. Toh ya, menurut pandangan orang awam seperti saya, memang seharusnya Niki tidak diberikan lagu pop ceria seperti itu karena kurang cocok dengan karakter suaranya.

Tahun 2017, saya merasa Niki ‘diselamatkan’ oleh label 88rising. Ia mengeluarkan single ‘See U Never’, ‘I Like U’, dan lagu favorit saya, ‘Chilly’. Semua lagu ini benar-benar cocok dengan suaranya yang groovy.

Jauh sebelum itu, Niki yang pernah mengeyam pendidikan di Sekolah Pelita Harapan, sering mengunggah video cover lagu di akun YouTube pribadinya. Niki mendapatkan popularitas dengan video cover di YouTube, mendapatkan lebih dari 40.000 subscriber. Selama itu juga ia sudah membuat lagu-lagu akustik seperti; ‘Milk Teeth’, Polaroid Boy’ dan ‘Anaheim’. Sayang, setelah berhasil menembus pasar musik Amerika Serikat, Niki menghapus semua video di YouTubenya.

Saat sedang mendengarkan lagu-lagu Niki (saya sampai membuat playlistnya di Spotify, agar mudah untuk diulang-ulang), kadang saya berpikir, kalau Niki masih bertahan di label rekaman yang lama, mungkin namanya tidak akan begitu dikenal sampai sekarang.

Atau kalau Niki masih rajin mengunggah video ke YouTube, mungkin sekarang ia akan menjadi seorang YouTuber yang isi kontennya itu-itu aja, alias enggak berkembang.

Indonesia masih mengikuti tren alay, musik pop seragam yang tidak memiliki perbedaan dan kekhasan, yang membuat bakat-bakat seperti Niki dan Rich Brian ini tidak akan bisa berkembang dengan baik, kecuali mereka keluar dari comfort zone dan mengeksplor sendiri genre mana yang paling cocok dengan suara mereka.

Kita enggak bisa nyalahin label rekamannya juga sih, karena semua balik lagi ke pasar yang akan diambil dan kualitas target pendengar di Indonesia. Jadi mungkin jawaban dari pertanyan “mengapa bakat anak-anak Indonesia lebih diterima di luar negeri?” adalah di sana mereka tidak mengikuti pasar, tapi menciptakan pasar sendiri.